TKA DAN PENGUATAN LITERASI DI ASSALAAM: BUKAN HANYA HAFALAN MELAINKAN PEMAHAMAN MENDALAM

TKA dan Penguatan Literasi di Assalaam: Bukan Hanya Hafalan Melainkan Pemahaman Mendalam

Penulis : Oktivita
Guru MTs PPMI Assalaam dan Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UMS

 

Sebanyak 340 santri kelas IX Madrasah Tsanawiyah (MTs) Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam telah mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA) pada tanggal  13 dan 14 April 2026 di ruang laboratorium. Pelaksanaan tahun ini menjadi momen perdana diberlakukannya TKA, setelah pemerintah resmi membuka pendaftaran untuk  jenjang SD/MI dan SMP/MTs tahun 2026 pada 19 Januari hingga 28 Februari 2026 melalui kanal resmi Kemendikdasmen.

Dengan syarat utama memiliki Nomor Induk Siswa Nasional (NISN) yang valid, para santri mengikuti ujian ini dengan tertib dan terarah. TKA merupakan instrumen nasional evaluasi akademik yang dirancang untuk mengukur capaian belajar peserta didik secara komprehensif.  Pelaksanaannya pun didukung oleh landasan regulasi yang jelas, yaitu Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 9 Tahun 2025, dan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2025 tentang Gerakan Literasi Sekolah (GLS).

TKA DAN PENGUATAN LITERASI DI ASSALAAM: BUKAN HANYA HAFALAN MELAINKAN PEMAHAMAN MENDALAM

Tes Kompetensi Akademik (TKA) sebagai pembaruan sistem evaluasi pendidikan di Indonesia menekankan kemampuan literasi dan numerasi siswa. Berbeda dengan sistem sebelumnya yang cenderung berorientasi pada hafalan, TKA dirancang untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi seperti analisis, logika, dan pemecahan masalah. “Melalui TKA, siswa tidak hanya membaca, tetapi dituntut memahami makna, menarik kesimpulan, bahkan mengkritisi isi teks. Ini yang membuat literasi mereka benar-benar terasah, “Kata Ustadz Hedonal. Ini menunjukkan bahwa TKA mendorong pergeseran cara belajar siswa dari sekedar memahami permukaan teks menuju kemampuan berpikir yang lebih mendalam dan reflektif, sehingga literasi tidak lagi bersifat pasif, melainkan aktif dan kritis.

Sementara itu, pada aspek numerasi yang berkaitan erat dengan literasi, Ustadzah Merking menyampaikan, “Dalam TKA, soal matematika tidak lagi sekadar hitungan, tetapi dikemas dalam bentuk cerita atau konteks. Siswa harus memahami informasi dalam soal terlebih dahulu sebelum menyelesaikannya.” Hal ini menegaskan bahwa kemampuan numerasi dalam TKA tidak berdiri sendiri, melainkan terintegrasi dengan literasi dalam membentuk pola pikir logis dan sistematis siswa.

Berdasarkan laman resmi Kemendikdasmen https://tka.kemendikdasmen.go.id pada tahun 2026 tercatat lebih dari 61 ribu satuan pendidikan jenjang SMP/MTs dengan lebih dari 4,3 juta peserta, di mana sebagian besar sekolah telah melaksanakan TKA secara mandiri dan berbasis dalam jaringan. Tingginya angka partisipasi ini menjadi indikator bahwa kebijakan TKA tidak hanya diterima, tetapi juga direspon secara positif oleh satuan pendidikan sebagai langkah maju dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.

TKA DAN PENGUATAN LITERASI DI ASSALAAM: BUKAN HANYA HAFALAN MELAINKAN PEMAHAMAN MENDALAM

Tingginya angka partisipasi tersebut juga tercermin dari respon positif para siswa sebagai subjek utama pelaksanaan TKA. Salah satu siwa kelas IX MTs PPMI Assalaam mengungkapkan, ”Saya lebih suka TKA karena soalnya tidak hanya menghafal, tapi mengajak saya berpikir dan memahami konteks. Jadi terasa lebih menantang sekaligus bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari.” Selain itu, pembelajaran literasi yang selama ini kami lakukan juga sangat membantu, karena saya lebih mudah memahami soal cerita, baik numerasi maupun Bahasa Indonesia. Pernyataan ini menunjukkan bahwa TKA mendorong siswa berpikir lebih kritis sekaligus menegaskan pentingnya kemampuan literasi dalam memahami berbagai bentuk soal secara komprehensif.

Regulasi penerapan TKA diharapkan menegaskan bahwa penilaian pendidikan berfungsi sebagai penjamin mutu sekaligus alat evaluasi sistem pembelajaran. Dalam konteks ini, TKA tidak hanya berfungsi sebagai alat ukur capaian akademik, tetapi juga sebagai instrumen strategis untuk mendorong perubahan paradigma pembelajaran dari hafalan menuju pemahaman.

TKA DAN PENGUATAN LITERASI DI ASSALAAM: BUKAN HANYA HAFALAN MELAINKAN PEMAHAMAN MENDALAM

Tujuan utama Tes Kompetensi Akademik tidak hanya mengukur capaian akhir siswa, melainkan memastikan ketercapaian kompetensi esensial yang selaras dengan arah kurikulum merdeka, terutama dalam penguatan literasi dan numerasi. Dalam kerangka ini, TKA berperan sebagai  sebagai instrumen evaluasi autentik yang menilai kemampuan memahami, menganalisis, serta mengaplikasikan pengetahuan dalam konteks nyata. Oleh karena itu, TKA diharapkan menjadi alat ukur yang tepat dan bijak untuk menilai proses dan hasil pembelajaran siswa di Indonesia.

Lebih dari sekadar penilaian akhir,  TKA memberikan gambaran menyeluruh tentang cara berpikir, tingkat pemahaman, serta keterampilan literasi dan numerasi siswa. Jika dimanfaatkan secara proporsional dan dipadukan dengan sistem penilaian lain,  TKA dapat menjadi dasar refleksi yang konstruktif dalam meningkatan kualitas pembelajaran, sehingga pendidikan benar-benar berorientasi pada pengembangan kompetensi dan pemaknaan belajar secara mendalam.